Peta Lokasi + Rundown Acara Tea Walk ITB 77 jr

peta-itb-77-jr1

Rundown Acara Tea Walk 18 April 2009

No Diskripsi Acara Durasi Mulai Selesai Keterangan
1 kumpul dan pengecekan 45″ 06.00 06.45 Jl Jawa 34 – rumah Makbul
2 perjalanan ke ciater 90″ 06.45 08.15 pake bus
3 istirahat dan persiapan tea walk 20″ 08.15 08.35 lokasi – tempat start tea walk
4 tea walk 105″ 08.35 10.00 rute tea walk
5 istirahat 15″ 10.00 10.15 tempat akhir tea walk
6 pencerahan ketua itb77 30″ 10.15 10.45 lokasi
7 makan siang n ramah tamah 60″ 10.45 11.45 lokasi
8 kunjungan ke pt sinkona 60″ 11.45 12.45 pt sinkona
9 persiapan pulang ke bandung 90″ 12.45 14.15 Jl Jawa 34 – rumah Makbul

Tea Walk dan Sharing dengan Pak Tri Haryo

Haloha…

teman2 ITB 77 Junior, tanggal 19 April  2009 kita bakal ada acara tea walk + learning dan sharing bersama Pak Hengki.

Kumpul di jalan jawa 34-jam 0603. Dari sana kita bakal naek bis ke daerah perkebunan teh. Ada acara kunjungan ke pabrik teh juga loh…. Acaranya sampe sore. GRATIS…!!

Ayo2, jangan sia2kan kesempatan ini untuk saling mengenal, kapan lagi…

yang bisa confirm ke gua, bles wall, kirim message atau email ke aulia87 [at] yahoo [dot] com…

tolong sebarin ke yang lain juga….

ditunggu ya…

Selamat Kepada Danu Radityo

n514565785_1283087_1829

Selamat Kepada Danu Radityo (Teknik Sipil 07) yang baru saja menjadi Ketua Unit Skor Hoki

-Keluarga ITB 77 Junior-

ITB 77 Senior : Djasli Djamarus

image002

Sejak Matrikulasi dan TPB, saya terus terang tidak terlalu mengenal Djasli dari dekat. Saya hanya tahu dan melihat dari jauh bahwa dia adalah seorang mahasiswa yang ”urakan”, kalau ke kampus memakai sandal, dan kalau ada acara sering teriak-teriak norak. Saya dengar dia pernah melempar kucing hamil ke Hiskia (dosen Kimia yang terkenal galak), sering ikut demo, menjadi aktivis gerakan mahasiswa dll. Karena urakan-nya tersebut, rasanya sewaktu di Kampus dulu, kalau disuruh milih untuk nonton Bioskop atau makan-makan, dengan Djasli atau dengan Chandra. Pasti saya lebih memilih untuk pergi dengan Chandra (ngapain sama Djasli). Saya juga mendengar bahwa dia sangat pandai dan nilainya hampir A semua. Mungkin karena perbedaan yang ekstrim itulah, Djasli menjadi populer & banyak dikenal oleh sebagian besar angkatan 1977.

Sejak TPB, saya tidak pernah lagi bertemu Djasli dan hanya mendengar bahwa dia mengajar di Trisakti. Pernah terbetik berita yang menginformasikan bahwa gara-gara Ariman, Dadan dan Djasli, maka mahasiswa Trisakti menjadi jauh lebih radikal dari mahasiswa ITB (pada saat Demo-demo era Reformasi). Itu berita burung yang saya dengar. Tapi kami tidak pernah bertemu, apalagi menjadi sahabat dekat.

Setelah acara reuni 25 tahun ITB-77, mulailah saya bersinggungan dengan Djasli. Hubungan kami menjadi lebih dekat karena mulai meng-inisiasi pengurusan bea siswa mahasiswa ITB melalui YBG. Karena YBG didirikan awalnya oleh para Eliters (alumni Elektro), maka Ongku, Djasli dan Nurudin-lah, yang banyak berperan di Yayasan tersebut. Dari situlah saya mengetahui bahwa Djasli, yang dulu terkenal urakan tersebut, nampaknya mempunyai misi hidup yang sangat mulia. Ia nampaknya ingin sekali membantu ”kalangan bawah” yang kesusahan. Ia menyediakan waktunya untuk mengajar gratis kepada murid-murid yang tidak mampu bersekolah, ia meminta buku ke Ketut Suardhana dan mengirimkannya ke daerah-daerah miskin, ia angkat ransel dan langsung terjun mengevakuasi korban bencana Tsunami, Ia menyediakan air bersih untuk gelandangan di pinggiran kali Ciliwung dan banyak lagi yang tidak bisa saya sebut satu per satu.

Pada saat Ongku maju jadi calon Bupati, Djasli tanpa diminta langsung turun tangan. Dia ingin melilhat Ongku sukses. Pada saat saya maju jadi ketua IA-ITB, Djasli juga langsung terjun. Dialah yang membawa saya berdiskusi dengan para tokoh-tokoh Gerakan Mahasiswa tahun 1978, yang tergabung dalam ”Student center forum:”, yang terdiri dari Indro Tjahjono, Dadan dan banyak lagi. Djasli juga ikut mengupayakan supaya Yusman SD– Menteri Perhubungan mengadakan open house di kediaman Menteri untuk saya ikut berkampanye. Tentunya kandidat lain ikut diundang, tapi mungkin sibuk (atau takut hadir) karena suasananya agak seru banget, akhirnya yang banyak berkampanye hanya saya di rumah Menteri Perhubungan kala itu.

Setiap kali selesai acara-acara kampanye, yang diprakarsai Djasli tersebut, saya selalu bilang, ”Djas, thank you yaa”. Dengan cepat Djasli menjawab, ”……ah jangan gitu lah Heng, ini sudah harus gue lakukan. Loe jangan pake thank you…thank you… segala”. Tapi tetap saya jawab, ”anyway thank you, ya… saya jadi dapat pengalaman baru dan teman baru”. Tapi itulah rupanya Djasli ”Sang urakan” yang sebenarnya. Buat Djasli persahabatan itu abadi dan tidak pernah melihat untung-rugi. Itulah sebabnya ia dengan mudah tiba-tiba makan pagi dengan seorang Menteri, ketemu Dirjen hanya melalui sms, tapi ia juga bisa bekerja kasar dipinggir kali Ciliwung untuk membantu para gelandangan.

Di Subuh  pagi hari, dalam perjalanan pulang dari acara reuni Sabtu 7 Maret 2009 malam yang lalu, Djasli menceritakan salah satu kebahagiaan hidupnya. Ia bilang, ”Heng, gue bahagia banget malam ini”. ”kenapa Djas ?” tanya saya. ”Loe dengar nggak tadi si wakil penerima bea siswa YBG sewaktu memberikan kesan dan pesan ?’. ”Sorry gue lupa, Djas”. Jawab saya sambil agak ngantuk berat. ”Heng, itu penerima bea siswa bilangnya begini, ….’cita-cita kami adalah bahwa kelak dikemudian hari, Insya Allah kami selaku penerima bea siswa YBG, bisa mengumpulkan dan memberikan bea siswa yang jauh lebih besar lagi, sehingga bisa membantu adik-adik kita yang tidak mampu, jauh lebih banyak lagi”.

Terus saya tanya ke Djasli, ”Jadi kenapa loe bahagia banget, bukannya itu normatif aja ?”.  dengan mata semakin mengantuk. Tapi Djasli semakin bersemangat menjawabnya, ”….tahu nggak, Heng. Kata-kata yang dia sampaikan itu, sebenarnya adalah cita-cita gue setiap saat kita mengirimkan uang bea siswa YBG ke ITB. Tapi gue tidak pernah menyampaikannya ke siapapun dan hanya saya doakan di dalam bathin saya saja. Jadi gue sangat kaget sewaktu anak itu menyampaikan kata-kata yang sangat persis sama dengan doa gue. Makanya tadi loe lihat gue langsung respond, kan. Itu yang bikin gue bahagia malam ini”.

Ok…Djas….you have found your mission in life. Yang jelas………….gue sekarang ok, lah kalau mau duduk makan-makan sama loe.

Salam,

Hengki

ITB 77 Senior : Amar Rasyad

image_n11

Membaca berita di koran Pikiran Rakyat di rubrik Apa dan Siapa tentang Amar Rasyad, membuat saya ingin mengulas tentang upaya-upaya yang sedang ia lakukan saat ini. Karena kebetulan kami seangkatan dan juga selalu berhubungan setelah lulus dari kampus, maka saya sedikit banyak bisa mengikuti perkembangan hidupnya.

Setelah lulus sebagai alumni ITB, ia melakukan langkah karier “standard”, sebagaimana dilakukan oleh sebagian besar insinyur ITB, yaitu mencari pekerjaan dengan menjadi seorang karyawan perusahaan besar. Di awal tahun 1980-an, Amar langsung bekerja di PT Kertas Kraft Aceh, setelah mengikuti management trainee dan memperoleh bea siswa dari IPPM, Jakarta. Di tahun 1989, Ia kemudian bekerja di Nalco chemicals dan pindah ke Buckman chemicals sejak tahun 1992 sampai tahun 1997.

Amar nampaknya tidak tidak terlalu menyukai posisi sebagai pekerja dalam sebuah tatanan perusahaan yang telah mapan. Kegelisahannya untuk bisa menjadi wirausahawan yang mandiri terus ada di hatinya. Itulah yang mendorongnya untuk mendirikan perusahaan PT Puspita Wira Raharja (PWR), sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pembuatan produk-produk kimia (chemicals products). Ia memperoleh idea bisnis ini setelah mengetahui bahwa produk-produk Kimia, yang disebut sebagai “ramuan khusus”, dan dijual dengan sangat mahal oleh Nalco dan Buckman, ternyata bisa dibikin di Indonesia dengan harga yang jauh lebih murah. Itulah cikal bakal model bisnisnya. Perusahaan yang ia dirikan tersebut, kini terbilang sukses dan telah menghasilkan pendapatan sekitar Rp 6 Milyard per tahun dan telah mempekerjakan sekitar 15 orang. Produk-produk kimianya juga telah dipasok ke berbagai industri Petrokimia dan Migas di Indonesia maupun di luar negeri seperti ke BP, Pertamina, Conoco Phillips dll.

Namun bukan itulah yang membuat saya terkesan dengan Amar.

Salah satu hal yang patut ditiru oleh kita semua, adalah apa yang dilakukan Amar setelah ia sukses “menjalankan” usahanya. Disaat-saat orang mulai memasuki masa tuanya dengan menikmati hasil-hasil jerih payahnya, Amar justru semakin bangkit dan bersemangat untuk membina para wirausahawan muda, agar lebih sukses dari dirinya. Niat ini semakin hebat setelah Amar menginjak usia 50 tahun. Ia tidak henti-hentinya memberikan pembelajaran, nasihat, bimbingan dan konsultansi kepada ratusan alumni-alumni muda ITB di kota Bandung, khususnya yang ingin berwiraswasta. Ia tidak memberikan janji-janji palsu atau berwacana kosong seperti para pejabat dan para politisi pada umumnya. Ia memberikan contoh-contoh dan informasi-informasi faktual dari dunia bisnis yang sebenarnya. Ia tidak ingin para alumni muda terlalu bermimpi bahwa menjadi pengusaha itu mudah dan “instant” dengan duduk-duduk dibelakang meja. Ia sangat sering turun ke lapangan, misalnya terjun bertani ke sawah di Subang, Gede Bage dll untuk mendorong semangat para alumni muda mengembangkan salah satu bisnis mereka yaitu Padi organik.

Itulah upaya-upaya Amar, yang membuat saya terkesan. Karena ia sangat menyadari bahwa saat ini terdapat 11,1 juta penganggur terbuka dimana 376 ribu diantaranya memiliki gelar sarjana. Padahal, Indonesia hanya butuh wirausahawan sebanyak 2 persen dari total penduduk untuk menghapus seluruh pengangguran di negeri ini. Amar tidak ingin menyalahkan pemerintah atau siapapun. Ia hanya bisa menunjukan semangat dan karya-karya nyatanya.

Salam,

Hengki

Group Facebook

untitled

Ayo gabung di group facebook ITB77 Junior. Ini linknya.

Reuni ITB 77

Pada tanggal 7 Maret 2009 diadakan reuni Angkatan 77 di Hotel Bumi Sawunggaling.  Alhamdulillah ITB 77 Junior bisa berkontribusi dalam acara tersebut dengan membantu mengatur teknis acara. Reuni ini juga merupakan momen penting bagi ITB 77 Junior karena pada malam itu dilakukan peresmian ITB 77 Junior oleh ketua angkatan ITB 77 Junior Bapak Tri Haryo Susilo dan Bapak Herry Saptanto selaku Bapak Asuh ITB 77 Junior. ITB 77 Junior juga  menampilkan sebuah vocal group. Ya walaupun suara pas-pasan yang penting kebersamaannya dapet lah.. hehe…

Berikut beberapa foto-fotonya :

Performance Vocal Group

Performance Vocal Group

Seksi Sibuk =p

Seksi Sibuk =p

Peresmian ITB 77 Junior

Peresmian ITB 77 Junior

Perkenalan Singkat ITB 77 Junior

Perkenalan Singkat ITB 77 Junior

Gitaris Kita

Gitaris Kita