
Membaca berita di koran Pikiran Rakyat di rubrik Apa dan Siapa tentang Amar Rasyad, membuat saya ingin mengulas tentang upaya-upaya yang sedang ia lakukan saat ini. Karena kebetulan kami seangkatan dan juga selalu berhubungan setelah lulus dari kampus, maka saya sedikit banyak bisa mengikuti perkembangan hidupnya.
Setelah lulus sebagai alumni ITB, ia melakukan langkah karier “standard”, sebagaimana dilakukan oleh sebagian besar insinyur ITB, yaitu mencari pekerjaan dengan menjadi seorang karyawan perusahaan besar. Di awal tahun 1980-an, Amar langsung bekerja di PT Kertas Kraft Aceh, setelah mengikuti management trainee dan memperoleh bea siswa dari IPPM, Jakarta. Di tahun 1989, Ia kemudian bekerja di Nalco chemicals dan pindah ke Buckman chemicals sejak tahun 1992 sampai tahun 1997.
Amar nampaknya tidak tidak terlalu menyukai posisi sebagai pekerja dalam sebuah tatanan perusahaan yang telah mapan. Kegelisahannya untuk bisa menjadi wirausahawan yang mandiri terus ada di hatinya. Itulah yang mendorongnya untuk mendirikan perusahaan PT Puspita Wira Raharja (PWR), sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pembuatan produk-produk kimia (chemicals products). Ia memperoleh idea bisnis ini setelah mengetahui bahwa produk-produk Kimia, yang disebut sebagai “ramuan khusus”, dan dijual dengan sangat mahal oleh Nalco dan Buckman, ternyata bisa dibikin di Indonesia dengan harga yang jauh lebih murah. Itulah cikal bakal model bisnisnya. Perusahaan yang ia dirikan tersebut, kini terbilang sukses dan telah menghasilkan pendapatan sekitar Rp 6 Milyard per tahun dan telah mempekerjakan sekitar 15 orang. Produk-produk kimianya juga telah dipasok ke berbagai industri Petrokimia dan Migas di Indonesia maupun di luar negeri seperti ke BP, Pertamina, Conoco Phillips dll.
Namun bukan itulah yang membuat saya terkesan dengan Amar.
Salah satu hal yang patut ditiru oleh kita semua, adalah apa yang dilakukan Amar setelah ia sukses “menjalankan” usahanya. Disaat-saat orang mulai memasuki masa tuanya dengan menikmati hasil-hasil jerih payahnya, Amar justru semakin bangkit dan bersemangat untuk membina para wirausahawan muda, agar lebih sukses dari dirinya. Niat ini semakin hebat setelah Amar menginjak usia 50 tahun. Ia tidak henti-hentinya memberikan pembelajaran, nasihat, bimbingan dan konsultansi kepada ratusan alumni-alumni muda ITB di kota Bandung, khususnya yang ingin berwiraswasta. Ia tidak memberikan janji-janji palsu atau berwacana kosong seperti para pejabat dan para politisi pada umumnya. Ia memberikan contoh-contoh dan informasi-informasi faktual dari dunia bisnis yang sebenarnya. Ia tidak ingin para alumni muda terlalu bermimpi bahwa menjadi pengusaha itu mudah dan “instant” dengan duduk-duduk dibelakang meja. Ia sangat sering turun ke lapangan, misalnya terjun bertani ke sawah di Subang, Gede Bage dll untuk mendorong semangat para alumni muda mengembangkan salah satu bisnis mereka yaitu Padi organik.
Itulah upaya-upaya Amar, yang membuat saya terkesan. Karena ia sangat menyadari bahwa saat ini terdapat 11,1 juta penganggur terbuka dimana 376 ribu diantaranya memiliki gelar sarjana. Padahal, Indonesia hanya butuh wirausahawan sebanyak 2 persen dari total penduduk untuk menghapus seluruh pengangguran di negeri ini. Amar tidak ingin menyalahkan pemerintah atau siapapun. Ia hanya bisa menunjukan semangat dan karya-karya nyatanya.
Salam,
Hengki


