
Sejak Matrikulasi dan TPB, saya terus terang tidak terlalu mengenal Djasli dari dekat. Saya hanya tahu dan melihat dari jauh bahwa dia adalah seorang mahasiswa yang ”urakan”, kalau ke kampus memakai sandal, dan kalau ada acara sering teriak-teriak norak. Saya dengar dia pernah melempar kucing hamil ke Hiskia (dosen Kimia yang terkenal galak), sering ikut demo, menjadi aktivis gerakan mahasiswa dll. Karena urakan-nya tersebut, rasanya sewaktu di Kampus dulu, kalau disuruh milih untuk nonton Bioskop atau makan-makan, dengan Djasli atau dengan Chandra. Pasti saya lebih memilih untuk pergi dengan Chandra (ngapain sama Djasli). Saya juga mendengar bahwa dia sangat pandai dan nilainya hampir A semua. Mungkin karena perbedaan yang ekstrim itulah, Djasli menjadi populer & banyak dikenal oleh sebagian besar angkatan 1977.
Sejak TPB, saya tidak pernah lagi bertemu Djasli dan hanya mendengar bahwa dia mengajar di Trisakti. Pernah terbetik berita yang menginformasikan bahwa gara-gara Ariman, Dadan dan Djasli, maka mahasiswa Trisakti menjadi jauh lebih radikal dari mahasiswa ITB (pada saat Demo-demo era Reformasi). Itu berita burung yang saya dengar. Tapi kami tidak pernah bertemu, apalagi menjadi sahabat dekat.
Setelah acara reuni 25 tahun ITB-77, mulailah saya bersinggungan dengan Djasli. Hubungan kami menjadi lebih dekat karena mulai meng-inisiasi pengurusan bea siswa mahasiswa ITB melalui YBG. Karena YBG didirikan awalnya oleh para Eliters (alumni Elektro), maka Ongku, Djasli dan Nurudin-lah, yang banyak berperan di Yayasan tersebut. Dari situlah saya mengetahui bahwa Djasli, yang dulu terkenal urakan tersebut, nampaknya mempunyai misi hidup yang sangat mulia. Ia nampaknya ingin sekali membantu ”kalangan bawah” yang kesusahan. Ia menyediakan waktunya untuk mengajar gratis kepada murid-murid yang tidak mampu bersekolah, ia meminta buku ke Ketut Suardhana dan mengirimkannya ke daerah-daerah miskin, ia angkat ransel dan langsung terjun mengevakuasi korban bencana Tsunami, Ia menyediakan air bersih untuk gelandangan di pinggiran kali Ciliwung dan banyak lagi yang tidak bisa saya sebut satu per satu.
Pada saat Ongku maju jadi calon Bupati, Djasli tanpa diminta langsung turun tangan. Dia ingin melilhat Ongku sukses. Pada saat saya maju jadi ketua IA-ITB, Djasli juga langsung terjun. Dialah yang membawa saya berdiskusi dengan para tokoh-tokoh Gerakan Mahasiswa tahun 1978, yang tergabung dalam ”Student center forum:”, yang terdiri dari Indro Tjahjono, Dadan dan banyak lagi. Djasli juga ikut mengupayakan supaya Yusman SD– Menteri Perhubungan mengadakan open house di kediaman Menteri untuk saya ikut berkampanye. Tentunya kandidat lain ikut diundang, tapi mungkin sibuk (atau takut hadir) karena suasananya agak seru banget, akhirnya yang banyak berkampanye hanya saya di rumah Menteri Perhubungan kala itu.
Setiap kali selesai acara-acara kampanye, yang diprakarsai Djasli tersebut, saya selalu bilang, ”Djas, thank you yaa”. Dengan cepat Djasli menjawab, ”……ah jangan gitu lah Heng, ini sudah harus gue lakukan. Loe jangan pake thank you…thank you… segala”. Tapi tetap saya jawab, ”anyway thank you, ya… saya jadi dapat pengalaman baru dan teman baru”. Tapi itulah rupanya Djasli ”Sang urakan” yang sebenarnya. Buat Djasli persahabatan itu abadi dan tidak pernah melihat untung-rugi. Itulah sebabnya ia dengan mudah tiba-tiba makan pagi dengan seorang Menteri, ketemu Dirjen hanya melalui sms, tapi ia juga bisa bekerja kasar dipinggir kali Ciliwung untuk membantu para gelandangan.
Di Subuh pagi hari, dalam perjalanan pulang dari acara reuni Sabtu 7 Maret 2009 malam yang lalu, Djasli menceritakan salah satu kebahagiaan hidupnya. Ia bilang, ”Heng, gue bahagia banget malam ini”. ”kenapa Djas ?” tanya saya. ”Loe dengar nggak tadi si wakil penerima bea siswa YBG sewaktu memberikan kesan dan pesan ?’. ”Sorry gue lupa, Djas”. Jawab saya sambil agak ngantuk berat. ”Heng, itu penerima bea siswa bilangnya begini, ….’cita-cita kami adalah bahwa kelak dikemudian hari, Insya Allah kami selaku penerima bea siswa YBG, bisa mengumpulkan dan memberikan bea siswa yang jauh lebih besar lagi, sehingga bisa membantu adik-adik kita yang tidak mampu, jauh lebih banyak lagi”.
Terus saya tanya ke Djasli, ”Jadi kenapa loe bahagia banget, bukannya itu normatif aja ?”. dengan mata semakin mengantuk. Tapi Djasli semakin bersemangat menjawabnya, ”….tahu nggak, Heng. Kata-kata yang dia sampaikan itu, sebenarnya adalah cita-cita gue setiap saat kita mengirimkan uang bea siswa YBG ke ITB. Tapi gue tidak pernah menyampaikannya ke siapapun dan hanya saya doakan di dalam bathin saya saja. Jadi gue sangat kaget sewaktu anak itu menyampaikan kata-kata yang sangat persis sama dengan doa gue. Makanya tadi loe lihat gue langsung respond, kan. Itu yang bikin gue bahagia malam ini”.
Ok…Djas….you have found your mission in life. Yang jelas………….gue sekarang ok, lah kalau mau duduk makan-makan sama loe.
Salam,
Hengki